Weekend di Bandung: Sate, Sunrise, dan Perdebatan Batagor
Oleh Pap & Bun · 9 Juni 2026 · 2 menit baca · 📍 Bandung, Indonesia
Dulu Bandung berarti merangkak tiga jam lewat tol. Sekarang kereta cepat dari Jakarta sampai dalam empat puluhan menit, yang artinya satu hal: operasi serbu kuliner akhir pekan resmi kembali dibuka.
Sabtu, 05.00: Tebing Keraton
Kami langsung menuju sunrise. Tebing Keraton adalah bibir tebing di atas hutan pinus Dago di mana, kalau paginya bagus, kamu berdiri di atas lautan awan sementara langit mementaskan pertunjukan lengkap dari biru dongker ke emas.
Suhu 12°C. Bun memakai dua jaket, salah satunya milik Pap — dan memang untuk itulah laki-laki yang sudah menikah membawa jaket.
Perdebatan Besar Batagor
Batagor adalah hadiah Bandung untuk peradaban, dan kota ini terbelah soal di mana batagor terbaik tinggal. Kami menggelar penelitian ilmiah (n = 2 orang, 3 lokasi, porsi yang tidak bijaksana):
- Legenda lawas: kulitnya paling garing, bumbu kacangnya cenderung manis.
- Kios pasar dekat masjid: lebih kecil, lebih murah, dan berbahaya karena gampang habis sembilan.
- Jaringan terkenal: konsisten, nyaman, sedikit terlalu aman.
Pap menetapkan kios pasar sebagai juara. Bun tetap setia pada legenda lawas. Perdebatan dilanjutkan di rumah, setiap minggu.
Sabtu Malam: Sate dan Surabi
Makan malamnya sate bakaran arang — ayam dan kambing, kecap di pinggir, kerupuk hukumnya wajib — disusul surabi untuk penutup: serabi kelapa yang dimasak di tungku arang dalam wajan tanah liat, dengan topping dari kinca sampai keju. Kami duduk di bangku plastik, minum bandrek panas, dan mengerti kenapa orang Bandung tidak pernah mau pindah.
Minggu: Braga dan Ujian Factory Outlet
Pagi santai di Jalan Braga — gedung-gedung kolonial, kedai kopi, seniman sketsa jalanan — lalu factory outlet legendaris di Jalan Riau. Bandung itu kota tekstilnya Indonesia, dan harga outletnya membuktikan itu.
Pelajaran yang kami bayar mahal: berapa pun sisa ruang di kopermu, itu tidak cukup.
Catatan Halal
Seperti sebagian besar Jawa Barat, Bandung halal-by-default hampir di mana pun, dan masjid muncul tiap beberapa ratus meter. Satu-satunya "riset" yang dibutuhkan adalah memutuskan mau makan apa lagi.
Kerusakan akhir pekan berdua: tiket kereta, satu malam hotel, sewa mobil untuk misi sunrise, dan makanan dalam jumlah heroik — sekitar Rp2,8 juta, plus apa pun yang terjadi di factory outlet, yang sudah kami sepakati untuk tidak pernah dijumlahkan.
Ditulis oleh Pap & Bun
Suami istri yang menjelajah peta sambil terus mencari yang halal. Satu tukang rencana, satu tukang foto, dua-duanya suka pesan berlebihan.
Tentang kami →Lanjut jalan-jalan
Tiga Hari di Yogyakarta: Candi, Gudeg, dan Pagi yang Pelan-Pelan
Jogja selalu berhasil menarik kami kembali. Kali ini kami kasih dia tiga hari tanpa buru-buru — sunrise di candi, gudeg untuk sarapan, dan malam di Malioboro yang ditutup kopi joss terenak seumur hidup.
📍 Yogyakarta, Indonesia
Lombok Bukan Cuma Pantai: Desa Sasak dan Ayam Taliwang
Orang menyebutnya pulau seribu masjid, dan azan yang bersahut-sahutan melintasi bukit saat Magrib membuktikannya. Kami datang untuk pantai dan pulang tergila-gila pada semua yang lain.
📍 Lombok, Indonesia
Perjalanan Pertama Kami: Kisah Jakarta–Bromo
Dua minggu setelah akad, satu kereta malam, satu jip jam 2 pagi, dan satu matahari terbit yang menentukan sisa hidup kami. Ini perjalanan yang memulai semuanya — termasuk nama blog ini.
📍 Gunung Bromo, Indonesia