Tiga Hari di Yogyakarta: Candi, Gudeg, dan Pagi yang Pelan-Pelan
Oleh Pap & Bun · 9 Juli 2026 · 3 menit baca · 📍 Yogyakarta, Indonesia
Ada kota yang cukup dikunjungi sekali. Jogja bukan kota yang seperti itu — bahkan di kunjungan pertama pun rasanya seperti pulang.
Ini kali keempat kami ke sana, dan sebelum berangkat dari Jakarta kami membuat satu aturan: tidak boleh buru-buru. Tiga hari, satu basecamp, dan semua keputusan makan diambil berdasarkan aroma, bukan daftar.
Hari Pertama — Malioboro Tanpa Rencana
Kami naik kereta pagi dari Jakarta (kalau bisa, ambil kelas eksekutif — pemandangan sungai di sekitar Kulon Progo sepadan dengan harganya) dan menaruh tas di guesthouse kecil dekat Prawirotaman.
Malioboro di sore hari itu chaos, tapi chaos yang ramah. Kami membiarkan seorang tukang becak merayu kami keliling lewat Istana Kepresidenan dan Pasar Beringharjo, lalu sisanya jalan kaki.
Makan malamnya klasik: gudeg. Nangka muda yang dimasak berjam-jam, disajikan dengan krecek yang membawa semua rasa pedas yang gudegnya tolak. Bun pesan paket lengkap dengan telur pindang; Pap, seperti biasa, minta tambahan sambal dan tidak menyesal sama sekali.
Catatan Bun: Kalau ini gudeg pertamamu, pesan yang versi kering. Gudeg kering lebih tahan perjalanan dari piring ke hati.
Hari Kedua — Sunrise di Borobudur, Sunset di Prambanan
Iya, artinya alarm jam 3.30 pagi. Iya, sepadan.
Borobudur secara teknis ada di Magelang, sekitar sejam perjalanan, dan melihat stupa-stupanya muncul dari kabut sementara langit berubah dari biru dongker ke jingga tembaga adalah momen "ini alasan kami jalan-jalan" paling kuat yang ditawarkan Jawa Tengah. Kami salat Subuh di masjid kecil di perjalanan — bapak sopirnya tahu persis harus berhenti di mana, karena sopir di sini selalu tahu.
Sore harinya kami sudah di Prambanan untuk golden hour. Kompleks candinya menyala keemasan menjelang tutup, dan kerumunannya menipis dengan cantik.
Hari Ketiga — Protokol Pagi Santai
Hari favorit kami justru yang tanpa itinerary:
- Kopi joss di angkringan dekat Stasiun Tugu — kopi yang dicemplungi arang membara. Dramatis, berasap, dan anehnya halus.
- Belanja batik di Tirtodipuran, di mana kita bisa menonton proses malam dan pewarnaannya langsung.
- Satu jam yang tenang di Kotagede, kampung perak tua, dengan gang-gang yang wangi sejarah dan bakpia goreng.
Catatan Halal
Jogja termasuk kota paling mudah di dunia untuk traveler muslim — nyaris semuanya halal secara default, dan mushola ada di mana-mana, dari mal sampai pom bensin. Satu-satunya yang perlu direncanakan adalah waktu, karena semua hal di sini layak diberi lebih.
Budget berdua, tiga hari: tiket kereta, guesthouse, semua makan, sopir, dan tiket masuk — sekitar Rp3,5 juta. Minimal Rp200 ribu di antaranya adalah Pap yang beli "camilan terakhir" untuk di kereta pulang.
Kami pasti kembali. Kami selalu kembali.
Ditulis oleh Pap & Bun
Suami istri yang menjelajah peta sambil terus mencari yang halal. Satu tukang rencana, satu tukang foto, dua-duanya suka pesan berlebihan.
Tentang kami →Lanjut jalan-jalan
Weekend di Bandung: Sate, Sunrise, dan Perdebatan Batagor
Empat puluh menit naik kereta cepat, satu sunrise dingin di atas awan, dan satu rivalitas batagor yang nyaris mengakhiri rumah tangga kami (tidak jadi). Bandung dalam satu akhir pekan.
📍 Bandung, Indonesia
Lombok Bukan Cuma Pantai: Desa Sasak dan Ayam Taliwang
Orang menyebutnya pulau seribu masjid, dan azan yang bersahut-sahutan melintasi bukit saat Magrib membuktikannya. Kami datang untuk pantai dan pulang tergila-gila pada semua yang lain.
📍 Lombok, Indonesia
Perjalanan Pertama Kami: Kisah Jakarta–Bromo
Dua minggu setelah akad, satu kereta malam, satu jip jam 2 pagi, dan satu matahari terbit yang menentukan sisa hidup kami. Ini perjalanan yang memulai semuanya — termasuk nama blog ini.
📍 Gunung Bromo, Indonesia