Perjalanan Pertama Kami: Kisah Jakarta–Bromo
Oleh Pap & Bun · 27 Februari 2026 · 3 menit baca · 📍 Gunung Bromo, Indonesia
Setiap blog punya kisah asal-usul. Punya kami berupa gunung berapi.
Dua minggu setelah akad nikah, sebelum spreadsheet daftar tamu sempat diarsipkan, kami naik kereta malam dari Jakarta ke Malang dengan dua ransel dan sebuah rencana yang sudah Bun beri kode warna dan belum Pap baca.
Kereta Malam
Delapan jam menembus punggung gelap Pulau Jawa. Kami berbagi earphone, menghabiskan seluruh kantong camilan sebelum Cirebon (pelajaran yang membentuk seluruh kebijakan penjatahan logistik setelahnya), dan membicarakan semua hal yang dibicarakan pengantin baru saat lampu diredupkan dan rel menabuh ritme pelannya.
Lewat tengah malam, Bun tertidur di bahu Pap, dan Pap memutuskan — dengan keyakinan seorang laki-laki yang lengannya sudah kesemutan total — bahwa dia tidak akan bergerak sampai pagi. Dia tidak bergerak.
Jam 2 Pagi, Cemoro Lawang
Penjemputan jip untuk sunrise Bromo terjadi di jam yang seharusnya ilegal: 02.00, dalam udara pegunungan yang tidak pernah diajarkan Jakarta. Kami memakai semua lapisan yang kami punya. Bun memakai jaket Pap di atas jaketnya sendiri — tradisi yang lahir malam itu dan belum pernah sekali pun berbalik arah.
Konvoi jip mendaki dalam gelap, lampu-lampunya menyapu hutan pinus, lalu — tidak ada apa-apa. Lautan pasir. Lanskap dengan atmosfernya dimatikan.
Matahari Terbitnya
Dari titik pandang Penanjakan, kamu menunggu dalam dingin bersama seratus orang asing, napas semua orang mengepul, penjual menyelinap di antara kerumunan membawa teh panas dan mi instan (beli dua-duanya; itu mi terenak di muka bumi pada suhu dan ketinggian itu).
Lalu langitnya mulai.
Biru dongker, lalu ungu memar, lalu segaris api di belakang kepulan Semeru, dan akhirnya seluruh kaldera di bawahmu — Bromo mengepul kalem di dalam mangkuk pasir dan awan, sambil santai menjadi salah satu hal terindah yang pernah kami berdua lihat.
Pap mengambil tepat empat ratus foto. Yang dibingkai di ruang tamu adalah satu-satunya frame saat dia menyerah dan memilih menggenggam tangan Bun saja. Ada pelajaran di situ yang kami pura-pura sudah pelajari.
Asal-Usul Nama Itu
Di jip turun gunung, mabuk ketinggian dan mi instan, kami mulai membicarakan ide menuliskan perjalanan-perjalanan kami. Kami butuh nama.
"Pap" dan "Bun" sudah jadi panggilan kami sehari-hari — jangan tanya kenapa; ada panggilan sayang yang tidak selamat dari penjelasan. Dan sepanjang perjalanan itu kami sadar separuh waktu kami habis untuk menengadah — ke bintang-bintang dari lautan pasir, ke matahari terbit, ke asap Semeru. Ke langit terus.
Pap tambah Bun tambah sky. Papbunsky. Bun mengucapkannya keras-keras satu kali, kami berdua tertawa, dan begitulah. Urusan journey-nya, pikir kami, akan mengurus dirinya sendiri.
Epilog
Mi instan di warung bawah harganya Rp15.000. Seluruh perjalanannya lebih murah dari sepatu pernikahan kami. Dia menyusun ulang cara kami ingin menghabiskan setiap pekan kosong seumur hidup.
Itu seluruh kisah asal-usulnya. Satu gunung berapi, satu lengan kesemutan, satu kata karangan. Selamat datang di perjalanannya.
Ditulis oleh Pap & Bun
Suami istri yang menjelajah peta sambil terus mencari yang halal. Satu tukang rencana, satu tukang foto, dua-duanya suka pesan berlebihan.
Tentang kami →Lanjut jalan-jalan
Tiga Hari di Yogyakarta: Candi, Gudeg, dan Pagi yang Pelan-Pelan
Jogja selalu berhasil menarik kami kembali. Kali ini kami kasih dia tiga hari tanpa buru-buru — sunrise di candi, gudeg untuk sarapan, dan malam di Malioboro yang ditutup kopi joss terenak seumur hidup.
📍 Yogyakarta, Indonesia
Weekend di Bandung: Sate, Sunrise, dan Perdebatan Batagor
Empat puluh menit naik kereta cepat, satu sunrise dingin di atas awan, dan satu rivalitas batagor yang nyaris mengakhiri rumah tangga kami (tidak jadi). Bandung dalam satu akhir pekan.
📍 Bandung, Indonesia
Lombok Bukan Cuma Pantai: Desa Sasak dan Ayam Taliwang
Orang menyebutnya pulau seribu masjid, dan azan yang bersahut-sahutan melintasi bukit saat Magrib membuktikannya. Kami datang untuk pantai dan pulang tergila-gila pada semua yang lain.
📍 Lombok, Indonesia