Logo The Papbunsky Journey The Papbunsky Journey Travel · Taste · Together

Lombok Bukan Cuma Pantai: Desa Sasak dan Ayam Taliwang

Oleh Pap & Bun · 1 Mei 2026 · 2 menit baca · 📍 Lombok, Indonesia

Lombok Bukan Cuma Pantai: Desa Sasak dan Ayam Taliwang

Semua orang terbang ke Lombok demi pantainya, dan itu wajar — pantainya memang tidak masuk akal. Teluk toska, pasir kosong, bukit-bukit yang seperti hasil edit. Tapi Lombok yang menempel di kepala kami justru terjadi di antara pantai-pantainya.

Pulau Seribu Masjid

Julukan Lombok itu bukan kiasan: masjid memahkotai hampir setiap desa, kubah-kubahnya dicat hijau dan emas berlatar sawah. Menyetir saat Magrib, azan naik dari satu lembah dan dijawab dari lembah berikutnya, bersahut-sahutan seperti estafet. Satu sore kami menepi hanya untuk mendengarkan. Tidak ada yang bicara. Ada momen perjalanan yang memang tidak butuh komentar.

Untuk traveler muslim, ini membuat Lombok mudah tanpa usaha — tempat salat tidak pernah lebih dari beberapa menit, dan semua warung halal.

Desa Sade

Sade adalah desa adat Sasak yang menjaga rumah-rumah bambu beratap alang-alangnya dan tradisi tenunnya. Iya, desanya menerima turis; tidak, itu tidak membuatnya palsu. Pemandu kami besar di sana dan mengajak kami masuk rumah-rumah yang lantainya dirawat dengan cara tradisional (tanya sendiri ke beliau — biar beliau yang cerita), lumbung padi di atas ruang tidur, dan alat tenun songket tempat ibunya bekerja.

Bun membeli selendang tenun langsung dari penenunnya. Pengerjaannya tiga minggu. Harganya lebih murah dari paket makan di bandara. Belilah selendangnya.

Pengadilan Ayam Taliwang

Konon "Lombok" berarti cabai, dan makanan khas pulau ini menganggapnya personal. Ayam taliwang adalah ayam kampung muda, dibakar atau digoreng, dilumuri sambal bawang-terasi yang dibuka dengan manis lalu melayangkan somasi resmi ke mulutmu.

Pendampingnya plecing kangkung — kangkung dengan sambal tomat — yang kedengarannya seperti lauk yang kalem, dan ternyata tidak.

Pap, yang bertahun-tahun menyombongkan level pedasnya, mendadak pendiam di suapan keempat. Bun menangis sedikit dan tetap melanjutkan makan, yang merupakan respons yang benar. Pesan es kelapa muda di awal. Kamu tidak akan punya ketenangan untuk memesannya belakangan.

Bukit Merese Saat Senja

Pantai selatan, dekat Tanjung Aan: bukit rumput gundul yang didaki sepuluh menit untuk pemandangan yang butuh satu jam. Teluk melengkung di kedua sisi, kuda-kuda merumput lepas, dan langit memainkan gradasi tembaga-ke-dongker di atas Samudra Hindia. Tempat ini sudah jadi kartu pos resmi Lombok, dan dia pantas.

Serba Praktis

  • Transportasi: sewa mobil dengan sopir (sekitar Rp600–700 ribu/hari) — jarak di sini menipu dan gaya menyetirnya butuh jam terbang.
  • Basecamp: Kuta Mandalika untuk pantai selatan; sisi Senggigi untuk akses Gili.
  • Kapan: musim kering Mei–September saat bukit-bukitnya hijau keemasan.

Kami datang untuk pantai. Kami pulang sambil merencanakan kunjungan ulang demi desa, tenun, dan satu ronde lagi melawan taliwang. Rematch sudah dijadwalkan.

Bagikan WhatsApp X Facebook

Ditulis oleh Pap & Bun

Suami istri yang menjelajah peta sambil terus mencari yang halal. Satu tukang rencana, satu tukang foto, dua-duanya suka pesan berlebihan.

Tentang kami →

Lanjut jalan-jalan