Perjalanan Pertama Kami: Bulan Madu di Bandung dan Garut
Oleh Papsky & Bunsky · 27 Februari 2026 · 3 menit baca · 📍 Bandung & Garut, Indonesia
Setiap blog punya kisah asal-usul. Punya kami dimulai dari bulan madu yang sederhana: Bandung, lalu Garut, dua minggu setelah akad, dengan mobil yang bagasinya masih berisi sisa-sisa kado pernikahan.
Babak Satu: Villa Taman Bougenville
Malam-malam pertama kami habiskan di Villa Taman Bougenville di kawasan Bandung — dan namanya tidak bohong: bunga bougenville di mana-mana, menyala fuchsia dan oranye di sepanjang pagar dan teras.
Ritme kami di sana nyaris memalukan kalau ditulis sebagai itinerary: bangun siang, teh panas di teras, jalan kaki keliling taman, tidur siang yang tidak direncanakan, ulangi. Dua minggu sebelumnya kami mengurus pernikahan dengan spreadsheet; rasanya luar biasa untuk tidak mengurus apa-apa.
Catatan Bunsky: Ternyata liburan tanpa rencana itu keahlian, dan kami berdua harus melatihnya. Papsky bertahan satu setengah hari sebelum mulai menyusun "rencana longgar". Satu setengah hari itu rekor yang belum terpecahkan.
Babak Dua: Pindah ke Garut
Dari Bandung kami menyetir ke tenggara, melewati tanjakan Nagreg yang legendaris itu, dengan playlist yang sudah disiapkan Bunsky dan camilan yang sudah dihabiskan Papsky sebelum setengah perjalanan (pola yang di kemudian hari membentuk seluruh kebijakan logistik kami).
Garut menyambut dengan udara yang lebih sejuk dan kota yang duduk manis di dalam mangkuk pegunungan. Kami menginap di Hotel Santika Garut — dan langsung paham kenapa orang menyebut kabupaten ini "Swiss van Java".
Babak Tiga: Dodol, Baso Aci, dan Air Panas
Urusan perut di Garut diselesaikan dengan serius:
- Baso aci yang kuahnya pedas-gurih dan membuat Bunsky memesan ronde kedua tanpa diskusi.
- Dodol Garut langsung dari toko oleh-olehnya — kami masuk "hanya untuk lihat-lihat" dan keluar dengan satu kantong penuh. Klasik.
- Sate dan nasi liwet di rumah makan keluarga yang penuh rombongan lokal — selalu tanda bagus.
- Sore terbaiknya: berendam air panas di kawasan Cipanas, kaki lurus, uap naik, gunung di kejauhan. Obat resmi untuk dua minggu urusan pernikahan.
Malam yang Memberi Nama
Malam terakhir di Garut, sepulang makan, langitnya sedang pamer: cerah, tinggi, penuh bintang khas kota pegunungan. Kami berdiri di luar lama sekali, kepala mendongak, tidak banyak bicara.
Di situlah obrolan "ayo tulis perjalanan-perjalanan kita" pertama kali muncul. Kami butuh nama. "Papsky" dan "Bunsky" sudah jadi panggilan kami sehari-hari — jangan tanya kenapa; ada panggilan sayang yang tidak selamat dari penjelasan. Malam itu, di bawah langit Garut yang penuh bintang, jawabannya mendadak terasa jelas: kenapa tidak digabung saja?
Papsky dilebur dengan Bunsky. Papbunsky. Bunsky mengucapkannya keras-keras satu kali, kami berdua tertawa, dan begitulah. Urusan journey-nya, pikir kami, akan mengurus dirinya sendiri.
Epilog
Bulan madu kami tidak melibatkan pesawat, paspor, atau itinerary berkode warna. Villa berbunga, kota kecil yang sejuk, makanan enak yang jujur — dan ternyata itu lebih dari cukup untuk menyusun ulang cara kami ingin menghabiskan setiap pekan kosong seumur hidup.
Itu seluruh kisah asal-usulnya. Satu villa, satu kota di mangkuk gunung, satu kata karangan. Selamat datang di perjalanannya.
Ditulis oleh Papsky & Bunsky
Suami istri yang menjelajah peta sambil terus mencari yang halal. Satu tukang rencana, satu tukang foto, dua-duanya suka pesan berlebihan.
Tentang kami →Lanjut jalan-jalan
Tiga Hari di Yogyakarta: Candi, Gudeg, dan Pagi yang Pelan-Pelan
Jogja selalu berhasil menarik kami kembali. Kali ini kami kasih dia tiga hari tanpa buru-buru — sunrise di candi, gudeg untuk sarapan, dan malam di Malioboro yang ditutup kopi joss terenak seumur hidup.
📍 Yogyakarta, Indonesia
Weekend di Bandung: Sate, Sunrise, dan Perdebatan Batagor
Empat puluh menit naik kereta cepat, satu sunrise dingin di atas awan, dan satu rivalitas batagor yang nyaris mengakhiri rumah tangga kami (tidak jadi). Bandung dalam satu akhir pekan.
📍 Bandung, Indonesia
Lombok Bukan Cuma Pantai: Desa Sasak dan Ayam Taliwang
Kami datang untuk pantai-pantainya yang tidak masuk akal — dan pulang tergila-gila pada desa tenun, sunset Bukit Merese, dan sepiring ayam taliwang yang menguji cinta kami.
📍 Lombok, Indonesia