Logo The Papbunsky Journey The Papbunsky Journey Travel · Taste · Together

Panduan Kuliner Halal Tokyo: Apa Saja yang Benar-Benar Kami Makan

Oleh Pap & Bun · 3 Juli 2026 · 3 menit baca · 📍 Tokyo, Jepang

Panduan Kuliner Halal Tokyo: Apa Saja yang Benar-Benar Kami Makan

Kita bahas ketakutannya dulu, karena kami juga pernah merasakannya: memangnya bisa makan enak di Tokyo kalau kita cuma makan yang halal?

Jawaban singkat: bisa — lebih dari sekadar bisa. Tapi butuh sedikit PR, dan tulisan ini adalah PR-nya.

Ramen yang Memulai Segalanya

Makan malam pertama kami adalah ramen halal di Asakusa, sepuluh menit jalan kaki dari Kuil Sensō-ji. Kuah paitan ayam yang pekat, mi buatan sendiri, tanpa babi, tanpa alkohol di bumbunya. Pap menghabiskan mangkuknya begitu cepat sampai pelayannya bertanya pelan apakah dia mau mangkuk kedua. (Mau.)

Sekarang kedai ramen halal ada di Asakusa, Shinjuku, dan dekat Stasiun Tokyo — cari "halal ramen" plus nama distriknya dan cek foto sertifikatnya di pintu.

Wagyu, Versi Halal

Makan besar edisi kalap: yakiniku halal di Shibuya. Wagyu bersertifikat yang kita panggang sendiri di atas arang. Itu makan malam ulang tahun Bun dan sampai sekarang masih dia ungkit setiap kali Pap protes soal harga apa pun.

Reservasi dulu. Serius — kami melihat orang yang datang tanpa booking ditolak setiap lima belas menit.

Ilmu Bertahan Hidup di Konbini

Minimarket Jepang akan menyelamatkanmu di antara jam makan, tapi baca labelnya baik-baik:

  • Aman: onigiri salmon atau kombu polos, sandwich telur (pastikan tanpa ham), buah, yogurt, ubi panggang saat musim dingin.
  • Hati-hati: mirin (arak masak) di isian berbumbu, ekstrak babi di saus yang tidak terduga, dan pengemulsi di beberapa roti.
  • Trik kami: kamera Google Translate plus daftar kanji yang disimpan di catatan — babi (豚), alkohol (酒), dan mirin (みりん).

Sushi dan Seafood

Ikannya sendiri bukan masalah — detailnya yang perlu dicek. Sebagian shoyu mengandung alkohol, dan sebagian nasi sushi dibumbui cuka berbahan sake. Kami memilih kedai sushi conveyor belt yang bisa ditanya-tanya, membawa botol kecil kecap halal sendiri (iya, kami pasangan yang seperti itu), dan makan salmon dalam jumlah yang memalukan.

Salat Dulu, Lalu Makan Lagi

Tokyo Camii di Yoyogi-Uehara adalah masjid terbesar di Jepang dan sungguhan salah satu bangunan tercantik di kota ini — arsitektur Utsmani, kaligrafi marmer, dan toko Turki di lantai bawah. Kami sengaja merencanakan satu sore penuh di sekitar salat Jumat di sana.

Sebagian besar department store besar (dan kedua bandara) sekarang punya prayer room; aplikasi di bawah ini daftarnya lengkap.

Aplikasi yang Kami Pakai Tiap Hari

  1. Halal Navi — pencari restoran dengan ulasan komunitas.
  2. Muslim Pro — jadwal salat dengan koreksi manual.
  3. Google Maps offline — karena food court bawah tanah itu pemakan sinyal.

Total kerusakan untuk tujuh hari makan seperti ini? Sekitar ¥4.000–6.000 per orang per hari, plus satu kali kalap wagyu. Sepadan sampai yen terakhir.

Bagikan WhatsApp X Facebook

Ditulis oleh Pap & Bun

Suami istri yang menjelajah peta sambil terus mencari yang halal. Satu tukang rencana, satu tukang foto, dua-duanya suka pesan berlebihan.

Tentang kami →

Lanjut jalan-jalan

Street Food Penang: Peta Halal George Town
Kuliner Halal 24 Mar 2026 · 3 menit baca

Street Food Penang: Peta Halal George Town

Penang itu ibu kota kulinernya Malaysia, tapi tidak semua kedai legendarisnya halal — jadi kami habiskan tiga hari menyusun peta yang dulu kami harap ada. Nasi kandar termasuk, tentu saja.

📍 Penang, Malaysia