Logo The Papbunsky Journey The Papbunsky Journey Travel · Taste · Together
← Semua berita
Asia

Minat Wisatawan Eropa ke Asia Tenggara Anjlok Akibat Konflik Timur Tengah

Sabtu, 1 Agustus 2026 · 15.07 WIB

Ilustrasi: Minat Wisatawan Eropa ke Asia Tenggara Anjlok Akibat Konflik Timur Tengah
Ilustrasi. Bukan foto peristiwa yang diberitakan.

Jumlah wisatawan Eropa yang berkunjung ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dilaporkan menurun tajam. Penurunan ini dipicu oleh ketegangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat, serta lonjakan harga tiket penerbangan internasional. Kondisi tersebut memukul negara-negara yang selama ini sangat bergantung pada pasar wisatawan Eropa.

Harga tiket pesawat untuk rute yang menghubungkan Eropa dan Asia melonjak hampir dua kali lipat setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Gangguan penerbangan di beberapa pusat penerbangan utama Timur Tengah, seperti Dubai dan Doha, juga menjadi faktor penyebab menurunnya minat perjalanan jarak jauh.

Indonesia merasakan dampak langsung dari situasi ini. Data menunjukkan total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia menurun sekitar 6 persen, dari 1.118.420 orang pada Januari-Februari 2026 menjadi 1.088.166 wisatawan pada Maret-April 2026. Penurunan ini terjadi setelah konflik Iran dan Amerika Serikat memanas sejak Februari 2026.

Negara-negara Asia Tenggara lain seperti Thailand dan Kamboja juga terdampak. Di Kamboja, seorang koki di Bandara Internasional Siem Reap Angkor bahkan mengalami pengurangan hari kerja dari 30 hari menjadi 20 hari setiap bulan, menyebabkan pendapatan bulanannya ikut berkurang.

Meskipun demikian, sektor pariwisata Asia Tenggara masih mendapat dukungan kuat dari wisatawan asal Asia. Pasar regional ini menjadi penopang di tengah lesunya kunjungan dari Eropa.

Bagi para pelaku perjalanan dan industri pariwisata Indonesia, berita ini menegaskan perlunya adaptasi strategi. Fokus pada pasar domestik dan regional Asia dapat menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata di tengah dinamika geopolitik global.

Berita lainnya